2006 - Manual Tata Kerja Kelembagaan COREMAP II - ADB

Sumberdaya kelautan dan ekosistemnya merupakan sumberdaya potensial yang dapat dikembangkan dan dimanfaatkan secara berkesinambungan untuk kemakmuran rakyat dan dapat dinikmati dari generasi ke generasi secara berkelanjutan melalui manfaat barang maupun jasa apabila dikelola secara baik dengan memperhatikan karakteristik dan daya dukung lingkungannya.

Pemanfaatan sumberdaya laut baik yang bersifat terbaharui maupun tidak terbaharui semakin meningkat seiring dengan meningkatnya populasi manusia, sehingga tekanan terhadap sumberdaya alam laut dan ekosistemnya semakin meningkat pula. Hal tersebut semakin dipicu oleh kegiatan yang tidak mengacu pada kriteria-kriteria pembangunan berwawasan lingkungan sertapemanfaatan sumberdaya alam laut yang berlebihan. Oleh karena itu pemanfaatan sumberdaya alam laut harus dilakukan secara bijaksana, terencana dan terkendali. Salah satu bentuk untuk melindungi sumbedaya alam ini adalah melakukan konservasi dengan cara menyisihkan lokasi-lokasi yang memiliki potensi keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, gejala alam dan keunikan, serta ekosistemnya menjadi kawasan konservasi laut. Melalui cara tersebut diharapkan upaya perlindungan secara lestari terhadap sistem penyangga kehidupan, pengawetan sumber plasma nutfah dan ekosistemnya serta pemanfaatan sumberdaya alam laut secara lestari dapat terwujud.

Pengelolaan wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil tidak terlepas dari pengelolaaan terumbu karang yang lestari. Hal ini disebabkan karena terumbu karang merupakan bagian integral  dari ekosistem pantai dan sebagai komponen dasar tempat hidupnya keseluruhan biota laut yang merupakan mata rantai penghubung dari energi matahari kedalam siklus ekosistem pesisir di laut.

Program Rehabilitasi dan Pengelolaan Terumbu Karang (Coral Reef Rehabilitation and Management Program/ COREMAP) bertujuan untuk melindungi, merehabilitasi dan memanfaatkan ekosistem terumbu karang dan ekosistem terkait lainnya secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di sekitar ekosistem tersebut melalui penguatan kapasitas pengelolaan sumberdaya karang di tingkat Nasional dan Lokal/Daerah. Program ini dilaksanakan dalam 3 fase yaitu : fase inisiasi (1998-2002); fase akselarasi (2003-2009) dan fase institusionalisasi.

Pada saat ini program COREMAP II telah memasuki tahap akselerasi. Tujuan utama dari fase ini adalah (1) memperkuat kapasitas pengelolaan sumberdaya karang di tingkat Nasional dan Lokal/Daerah; dan (2) merehabilitasi dan mengelola ekosistem karang. Adapun cakupan wilayah kerjanya adalah wilayah barat dan wilayah timur. Untuk Indonesia Bagian Barat dengan sumber dana dari Asian Development Bank (ADB) terdiri dari 8 Kabupaten/Kota di 3 Provinsi, yaitu: Sumatera Utara (Kab.Tapanuli Tengah, Kab.Nias, Kab.Nias Selatan), Sumatera Barat (Kab.Kepulauan Mentawai), Kepulauan Riau (Kab. Bintan, Kota Batam , Kab. Lingga).

Dalam pengelolaan terumbu karang diperlukan keterlibatan pihak-pihak terkait (stakeholders) demi tercapainya misi dan tujuan sesuai yang diharapkan dari program yang inisiasi oleh pemeritah pusat untuk dilaksanakan di daerah dalam hal ini Coremap II. Kegiatan dan pengelolaan terumbu karang akan berhasil apabila berdasarkan keseimbangan antara pemanfaatan dan kelestarian yang dirancang dan dilaksanakan
secara terpadu dan sinergi oleh semua pihak yang terkait dilibatkan dalam program tersebut.

Keberhasilan pelaksanaan program ditentukan antara lain oleh adanya kelembagaan di tingkat pusat maupun daerah. Sejalan dengan hal tersebut, maka rangkaian tugas, tanggungjawab dan wewenang masing-masing unit beserta jajarannya perlu dibuat dan disinergikan secara jelas dan tidak tumpang tindih guna mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Untuk penguatan kelembagaan tersebut diperlukan sebuah pedoman yang dapat dijadikan acuan bagi pengelola program COREMAP II ADB.