2007 - Baseline Studi Ekologi di Kab.Mentawai

BS Ekologi MentawaiCOREMAP, yang direncanakan berlangsung selama 15 tahun, terbagi dalam 3 Fase, dan saat ini memasuki Fase II. Dalam Fase ini terjadi penambahan lokasi-lokasi baru yang pendanaannya dipikul oleh ADB (Asian Development Bank). Salah satu lokasi baru adalah Kepulauan Mentawai yang secara administratif masuk Kabupaten Mentawai, Provinsi Sumatera Barat.

Wilayah Kabupaten Mentawai merupakan gugusan pulau yang terdiri dari empat pulau besar, yaitu P. Siberut, P. Sipora, P. Pagai Utara, dan P. Pagai Selatan, serta beberapa pulau kecil di sekitarnya. Gugusan pulau-pulau ini berjarak sekitar 120 mil sebelah barat pantai Padang, Sumatera Barat. Gugusan pulau-pulau tersebut dikenal sebagai Kepulauan Mentawai yang semula secara administratif masuk ke dalam wilayah Kabupaten Padang Pariaman. Kini kepulauan tersebut berkembang menjadi kabupaten tersendiri, yaitu Kabupaten Mentawai dengan ibukota kabupaten di Tua Pejat yang berada di P. Sipore.
Secara geografis Kepulauan Mentawai berada di Samudera Hindia, sehingga perairan kepulauan ini mempunyai system arus dan karakteristik massa air yang sangat dipengaruhi oleh system yang berkembang di Samudera Hindia. Rataan pantai umumnya sempit dengan pantai yang curam dan dalam, baik di sisi Samudera Hindia maupun di sisi yang menghadap ke daratan Sumatera.

Penduduk Kepulauan Mentawai merupakan campuran beberapa suku, baik suku asli maupun pendatang yang telah lama bermukim di sana. Umumnya penduduknya bermata pencarian sebagai petani dan nelayan. Namun pekerjaan sebagai petani (terutama cengkeh dan kelapa) lebih dominan. Kegiatan sebagai nelayan umunya dilakukan apabila harga ikan relatif mahal.

Sebagai lokasi baru, studi baseline ekologi sangatlah diperlukan untuk mendapatkan data dasar ekologi dari lokasi tersebut, termasuk kondisi ekosistem terumbu karang, mangrove beserta lingkungannya. Diharapkan agar data yang terkumpul dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan oleh para pemangku kepen-tingan untuk mengelola terumbu karang se-cara lestari. Selain itu studi ini juga me-netapkan beberapa transek permanen di lo-kasi baru untuk tujuan pemantauan di masa mendatang. Tersedianya data dasar hasil pe-mantauan dapat dijadikan bahan evaluasi penting bagi keberhasilan COREMAP.

Kegiatan lapangan dilakukan pada bulan Mei 2007. Tujuan penenlitian baseline ekologi ini adalah untuk mendapatkan data dasar ekologi terumbu karang di perairan Kabupaten Mentawai dan membuat transek permanen di beberapa titik yang akan dipantau secara kontinu di masa mendatang. Kegiatan lapangan dilakukan dengan melibatkan staf CRITC (Coral Reef Information and Training Centre) Jakarta, dibantu oleh para peneliti dan teknisi Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI dan beberapa staf CRITC setempat.

Hasil:

  • Luas terumbu karang, termasuk terumbu tepi, gosong terumbu dan beting di antara P. Sipora bagian utara (Tua Pejat dan Igosoinan) dan P. Siberut bagian selatan (Katurai dan Muara Siberut) adalah 24300 ha.
  • Hasil studi dengan metode RRI di 40 stasiun menunjukkan bahwa persentase tutupan karang hidup berkisar antara 2,78%-36,36% dengan rerata 10,77%.
  • Hasil LIT dan pengamatan bebas mengidentifikasi 49 jenis karang batu yang termasuk ke dalam 14 suku.
  • Kemerataan jenis karang batu di semua stasiun umumnya rendah, karena adanya monopoli lokasi oleh jenis-jenis tertentu, seperti Pocillopora sp. (St. MTWL 53), Montipora sp. (St. MTWL 78), dan Galaxea sp. dan Porites sp. (St. MTWL 84).
  • Hasil LIT di 9 stasiun transek permanen menunjukkan bahwa presentase tutupan karang hidup berkisar antara 3,43%-52,07% dengan rerata 17,22%.
  • Kelimpahan gastropoda jenis Drupella sp. adalah 643 individu/ha.
  • Karang jamur (CMR) dijumpai sangat melimpah (=9143 individu/ha).
  • Kelimpahan kima ukuran besar (panjang >20 cm) adalah 143 individu/ha, dan yang berukuran kecil (< 20 cm) = 571 individu/ha.
  • Kelimpahan tripang ukuran besar (diameter >20) hanya 17 individu/ha, dan yang berukuran kecil tidak dijumpai.
  • Ikan karang jenis Ctenochaetus striatus paling sering dijumpai dengan frekuensi kehadiran relative sebesar 79%.
  • Identifikasi ikan melalui pengamatan UVC di 9 stasiun transek permanen menemukan 167 jenis ikan karang yang termasuk ke dalam 30 famili dengan kelimpahan sebesar 13745 individu/ha.
  • Kelimpahan ikan karang tertinggi di 9 lokasi pengamatan adalah dari jenis Cirrhilabrus cyanopleura (suku Labridae) = 1857 individu/ha, diikuti berturut-turut oleh Rastreliger kanagurta (suku Scrombidae) 1229 individu/ha, dan Chromis ternatensis (suku Pomaentridae) 771 individu/ha.
  • Kelimpahan beberapa ikan ekonomis penting yang diperoleh dari UVC di 9 stasiun transek permanen antara lain ikan Rastreliger kanagurta (suku scrombidae) = 1229 individu/ha, ikan kerapu (suku Serranidae) = 147 individu/ha /ha, Acanthurus blochii (suku Acanthuridae) = 234 individu/ha, dan Pterocaesio tile (suku Caesionidae) = 220 individu/ha.
  • Perbandingan antara ikan mayor, ikan target, dan ikan indicator adalah 21: 12: 1.