Monitoring Kondisi Terumbu Karang Dan Ekosistem Terkait Di Perairan Spermonde, Kota Makassar

Kegiatan monitoring dilaksanakan pada tanggal 5 Mei hingga 16 Mei 2017, dipimpin oleh Ni Wayan Purnama Sari, dan disertai dengan anggota Tim  sebanyak 13 orang. Metode monitoring menggunakan buku panduan monitoring terumbu karang dan ekosistem terkait yang diterbitkan oleh LIPI. Lokasi penelitian berada di perairan Spermonde yang meliputi 11 pulau dan 2 gosong karang, dimana secara keseluruhan mencakup 13 stasiun (lihat peta berikut).


Secara umum hasil pengamatan kondisi terumbu karang pada 13 stasiun di perairan Spermonde berada dalam kondisi sedang. Kawasan Spermonde merupakan perairan yang berada di jalur pelayaran sibuk di Sulawesi. Kegiatan penduduk yang massif di Kota Makassar juga menyebabkan kondisi perairan berikut biota lautnya mengalami eksploitasi lebih. Pada pulau terluar, Pulau Langkai dan Pulau Lanyukang, juga mempunyai kondisi terumbu karang yang termasuk kategori sedang. Kondisi karang hidup yang termasuk dalam kategori baik hanya terdapat di 2 lokasi, yaitu Pulau Lumu-lumu (MKSC04) dan Pulau Kodingareng Keke (MKSC05) (lihat foto berikut).


Kondisi karang hidup kategori sedang di Pulau Langkai (MKSC01)


Kondisi karang hidup kategori sedang di Pulau Lanyukang (MKSC02).


Terumbu karang dengan tutupan yang padat dan beragam di Pulau Lumu-Lumu (MKSC04).


Terumbu karang dengan tutupan yang padat dan beragam di Pulau Kodingareng Keke (MKSC05)

Komunitas ikan karang didominasi oleh ikan Herbivora sebanyak 1112 individu (72,82 %) yang mewakili 32 jenis dari 3 famili. Ikan Koralivora sebanyak 246 individu (16,11 %) terdiri atas 19 jenis, sedangkan Karnivora sebanyak 169 individu (11,07 %) termasuk dalam 23 jenis dari 4 famili. Ikan Herbivora dan Karnivora merupakan ikan target penangkapan bagi nelayan karena memiliki nilai ekonomis dan dimanfaatkan sebagai bahan pangan, sedangkan ikan Koralivora sebagai indikator.

Megabenthos target di seluruh stasiun tercatat sebanyak 1489 individu, dimana bulu babi dan siput Drupella spp. dijumpai di seluruh stasiun. Acanthaster planci dan lobster memiliki sebaran yang sempit karena hanya dijumpai pada satu atau dua stasiun saja. Teripang sama sekali tidak dijumpai di lokasi transek, namun dapat dijumpai di luar lokasi transek.

Pemantauan kondisi lamun dilakukan di 10 stasiun, yaitu Pulau Langkai (MKSS01), Pulau Lanjukang (MKSM02), Pulau Lumu-lumu (MKSS03), Pulau Bonetambung (MKSS04), Pulau Kodingarenglompo (MKSS05), Pulau Bonebatang (MKSS06), Pulau Barranglompo (MKSS07), Pulau Barangcaddi (MKSS08), Pulau Lae-lae (MKSS09), dan Pulau Kayangan (MKSS10). Tercatat enam jenis lamun, yaitu Halodule uninervis, Cymodocea rotundata, Syringodium isoetifolium, Enhalus acoroides, Thalassia hemprichii dan Halophila ovalis. Distribusi lamun pada umumnya bersifat campuran, kecuali pada Stasiun MKSS09 (Pulau Lae-Lae) dan MKSS10 (Pulau Kayangan) hanya dijumpai satu jenis lamun, yaitu Enhalus acoroides.

Kerapatan rata-rata mangrove di empat stasiun transek permanen adalah 3891,665 ± 556,78 pohon/ha atau termasuk dalam kategori bagus. Rhizophora mucronata dan Avicennia marina tumbuh berkelompok dan dominan terhadap jenis lainnya.

Pengamatan terhadap stok teripang dilakukan dengan koleksi bebas. Teripang hanya dijumpai di 4 stasiun, yaitu Pulau Langkai, Pulau Lumu-lumu, Pulau Barrang Caddi dan Pulau Kodingareng Lompo. Sedangkan, jenis teripangnya adalah Bohadschia marmorata, Holothuria atra, Holothuria fuscocinerea dan Holothuria leucospilota, dengan jumlah individu berkisar antara 1 sampai 7 individu per jenis. (Susetiono)